(Jeritan para leluhur)
Ada Naniang
bersarang di telinga ini
ketika dengung yang bergetar
diantara kedua kepak dadanya
menyatakan diri
di Alam ini
dari darek getaran itu menggema
sampai ke rantau lalu menukik ke dalam laut
layang – layang darek itu bermain
bagai tuangan tembaga menetes halus
rinainya pariangan dari sebuah kancah
terawangan lidah
Inilah mainan Aulia negeri ini !
Memanggil anak kemenakan
pulang dari rantau
berkhabar pada nenek moyang
menyantuni kampung, dan
sanak famili yang berlayar
di rantau lautan tak bertepi
Berkundano di rimba larangan
mengawasi gembalaan yang sesat
menelusuri tali bandar
tepian tempat mandi
serta,
memelihara terukaan
sawah gadang satampang banieh
makanan anak tiga luhak
untuk hidup, dan
kehidupan anak kemenakan
Namun kini,
Tulang layang – layang darek itu
tergantung di tiang bubungan
Umurnya kini,
sudah mencapai sembilan puluh sembilan
ditambah satu tahun, bahkan
ada yang mencapai seratus
ditambah dua puluh tahun
masih ada yang mencapai seratus empat
ditambah empat puluh tahun
yang jelas,
seratus empat belas lengkap.
Sementara, benang
tali layang – layang darek itu
walau ada yang kusut
masih melingkar melingkar di tuturan
Ninik berharap, barangkali
anak kemenakan mau jadi “Warih”
Sang pelanjut negeri ini
tulang layang – layang darek itu
kebanggaan ninik sejak Merapi
Memintal benang – benang kusut
menjalinnya jadi tali
menenun alam jadi ragi
Sayang, ada yang midik
barangkali,
untuk menelusuri jejak kuburan
Dari Kumpulan Puisi Emral Djamal : "Layang-Layang Darek", 1995
bagai tuangan tembaga menetes halus
rinainya pariangan dari sebuah kancah
terawangan lidah
Inilah mainan Aulia negeri ini !
Memanggil anak kemenakan
pulang dari rantau
berkhabar pada nenek moyang
menyantuni kampung, dan
sanak famili yang berlayar
di rantau lautan tak bertepi
Berkundano di rimba larangan
mengawasi gembalaan yang sesat
menelusuri tali bandar
tepian tempat mandi
serta,
memelihara terukaan
sawah gadang satampang banieh
makanan anak tiga luhak
untuk hidup, dan
kehidupan anak kemenakan
Namun kini,
Tulang layang – layang darek itu
tergantung di tiang bubungan
Umurnya kini,
sudah mencapai sembilan puluh sembilan
ditambah satu tahun, bahkan
ada yang mencapai seratus
ditambah dua puluh tahun
masih ada yang mencapai seratus empat
ditambah empat puluh tahun
yang jelas,
seratus empat belas lengkap.
Sementara, benang
tali layang – layang darek itu
walau ada yang kusut
masih melingkar melingkar di tuturan
Ninik berharap, barangkali
anak kemenakan mau jadi “Warih”
Sang pelanjut negeri ini
tulang layang – layang darek itu
kebanggaan ninik sejak Merapi
Memintal benang – benang kusut
menjalinnya jadi tali
menenun alam jadi ragi
Sayang, ada yang midik
barangkali,
untuk menelusuri jejak kuburan
Dari Kumpulan Puisi Emral Djamal : "Layang-Layang Darek", 1995
Tidak ada komentar:
Posting Komentar