BAJALAN PALIHAROLAH KAKI, BAKATO PALIHAROLAH LIDAH

Minggu, 01 Maret 2015

Batu Nan Limo .Com: Sejarah Islam di Minangkabau

Batu Nan Limo .Com: Sejarah Islam di Minangkabau: Surau Bagonjong (mushalla) di Minangkabau a. Sebelum Masuknya Islam di Kerajaan Minangkabau Puncak kejayaan Raja Minangkabau diketahui setel...

Rabu, 12 November 2014



Banyak para ahli ilmu pengetahuan telah menyadari bahwa pengetahuan lewat berbagai peninggalan benda-benda budaya dan pemikiran-pemikirannya di masa lalu, serta pengenalan tentang hakekat kemanusiaan, akan memberi arah tuntunan dalam pencarian-pencarian nilai-nilai hidup manusia dan kemanusiaan itu. Untuk kemudian dapat becermin diri.
Dan dengan mendalami merenungi, dan memahami nilai-nilai akal budi manusia dan kemanusiaannya, serta berbagai nilai-nilai peninggalannya tentulah dapat membangkitkan potensi dari aras kesadaran manusia, yang pada gilirannya kemudian dapat mewujudkan upaya-upaya baru dalam mengendalikan sifat-sifat manusia kearah kemanusiaannya yang “manusiawi”. Karena manusia yang “berperi kemanusiaan”, hanya dapat terwujud pada pribadi-pribadi yang benar-benar menyadari, memahami, dan memaklumi hakekat manusia dan kemanusiaan “yang berperi kemanusiaan” itu sendiri. Lain tidak.

Berbagai tingkat kecerdasan sesuai dengan kualitas akal budi yang dimiliki manusia sepanjang zaman, mencoba merumuskan nilai-nilai kemanusiaan itu. Namun selalu saja terbentur kepada hal-hal yang bersifat relatif. Dan pada tingkat kesadarannya yang paling tinggi tentang yang “relatif” itu, yang tak mungkin lagi dijangkau dengan akal-fikirannya, dengan kecerdasannya, akhirnya manusia itu akan jatuh tersungkur.
Menyerah dalam kesadaran lain, bahwa di balik kecerdasan akal-fikiran ini, ada “sesuatu kekuatan” yang tak mungkin ditembus dengan akal fikiran, bahkan pada puncaknya akal fikiran itu “dipaksa” berhenti untuk kemudian menyerah dan berserah diri kepada kekuasaan Tuhan Yang Maha Tinggi.
Bila manusia, khususnya manusia dengan akal budi “Minangkabau” dalam perjalanan sejarahnya telah sukses melakukan perantauan fisik, dan perantauan intelektual di luar sana maka sekarang haruslah diimbangi dengan kemampuan penalaran nilai-nilai warisan budaya lokal (nilai-nilai kearifan local) peninggalan nenek moyangnya yang hidup menetap di alam kawasannya sendiri.
Sehingga dapat menolak sindiran atau penafsiran sementara orang, bahwa “Minangkabau” sekarang seperti “mangkutak” yang hanya bermain melepas layang-layangnya ke langit tinggi. Sehingga menyebalkan hati “sabai nan haluih” sang kakak perempuannya yang kreatif dan produktif, bahkan seorang pendekar putri yang mampu “tagak luruih bakato bana” mampu bicara benar dalam membela ketidak adilan.
Semangat mengembara perlu terus dibangkitkan, dikobarkan serta dikembangkan. Terutama pengembaraan akal budi yang memanusia. Rasa puas diri dan rasa tidak berdaya sama saja bahayanya. Namun lebih dari itu, pikiran-pikiran bernas dari para perenung kreatif, seharusnya tidak hanya tinggal di langit, terbang diawang-awang, tetapi haruslah turun kembali “membumi”, ber- apresiasi dengan aplikasinya di dunia nyata.
Bila “Minangkabau” tidak berjuang jadi manusia “Minangkabau Baru”, yang juga berarti “Manusia Indonesia Baru”, manusia Universal, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama nilai-nilai budaya “Minangkabau” termasuk “limbago”nya akan terbenam jauh ke kerak bumi. Dan “Minangkabau” sebagai wilayah budaya yang seharusnya memperkaya khasanah budaya Indonesia bahkan Nusantara bisa lenyap dari peta kebudayaan. Akibatnya “tidak diperhitungkan lagi”, karena dianggap tidak ada.
Tulisan ini mencoba mangampuangkan nan taserak, mengais-ngais tanah pijakan, marosok-rosok kedalamn gauang Alam Fikiran Minangkabau itu, lalu dalam sebuah diskusi pada komunitas/grup kecil Lembaga Kajian Tradisi Minangkabau, mencoba “maindang manampi tareh”, memilah-milah topik, memperkatakannya, mencencang, membolak balikkan, menjawab, atau merumuskannya terserah kepada siapa yang menikmatinya. Hasil pembicaraan itu kemudian disusun dalam bentuk tulisan khas yang disebut Silek Kato.
Seperti guntingan-guntingan kain tak berguna, menyambung paco-paco dan menjahitnya menjadi lembaran-lembaran baru yang warna warni bagaikan tirai atau tabir yang dapat dibentangkan pada dinding, diruang ruang khalayak.
Dan tulisan ini kemudian menjadi artikel dengan 28 buah anak judul yang telah dimuat secara bersambung pada Mingguan Singgalang, dibawah judul pokok (rubrik) “Silek Kato” Minggu 9 Maret 2003 sampai dengan Minggu 14 September 2003 yang lalu.
Atas saran dan permintaan teman-teman, penulis menyusunnya kembali dalam bentuk kumpulan ini. Untuk melengkapinya, ada 13 judul tulisan lagi yang ditambahkan, sebagian telah dimuat juga pada Singgalang Minggu tahun 2003 dan sebagian ada yang belum.
Semoga tulisan ini dapat menggelitik para ahli, terutama para pemerhati, bahkan peminat serius yang melakukan penelitian nilai-nilai kearifan lokal Budaya Alam Minangkabau di Sumatera Barat ini, atau pemerhati budaya dimana saja, terserah memilah-milahnya untuk mendapatkan judul lembaran paco-paco baru sebagai topik diskusi, dalam upaya mendalami lebih baik, sesuai dengan minat masing-masing.
MALIN BATU, LEGENDA BATU SEJARAH IV

Tuhanpun murka
laut berombak badai menggulung
gelombang menghempas
kapal pecah nakhoda karam di bandarnya
terdampar di pesisir samudera

si malin kaya disambar tasbih sigaga
malin hilang, kaya dikundang-kundang
hati terbuang

Sang Sangkala meniup nafiri Ilahi
anjing melolong di malam sepi
murai berkicau senja
ayam berkokok dinihari
batu-batu membatu
batu batu membatu, sunyi

hai batu !
batu membatu batu batu batu membatu
jadilah Maliiin.

Terdengar suara sipongang dalam lubuk
menembus langit tinggi di keheningan sepi,
menusuk hari-hariku di malam sunyi,
sendiri.

Lubuk Sipunai, 1994

Iskandar Dzulkarnain (Bagian kedua dari satu tulisan): Tambo ALam Minangkabau

Oleh : Emral Djamal Dt. Rajo  Mudo
\Tambo Alam Minangkabau
Walaupun Tambo Minangkabau sering dianggap sebagai legenda, dongeng atau mithos dengan cerita sejarah yang berbelit-belit, namun bila di simak dan ditelusuri secara hati-hati dengan teknik dan metode ilmunya dengan kemampuan menafsirkan ungkapan-ungkapan petuah, pepatah-petitih dan berbagai kias ibarat yang terdapat di dalamnya, ternyata Tambo Minangkabau beserta turunannya tidak saja mengandung ajaran-ajaran falsafah adat yang mulia dengan nilai-nilai luhur yang diungkapkan dengan gaya bahasa seni sastra yang tinggi (Nasroen, l957) tetapi juga merupakan “bukti sejarah otentik” yang lengkap, dan tidak mudah begitu saja dikesam pingkan oleh para ahli dan peneliti sejarah, hanya karena “tidak mampu” menafsirkan atau memahami sastra dan bahasa kias yang terdapat dalam Tambo Minangkabau.
Tambo ALam Minangkabau
Emral Djamal
Anehnya banyak pula para ahli yang “berhabis-habisan” untuk men terjemahkan isi berbagai prasasti yang hanya terdiri dari beberapa baris untuk kemudian menafsirkannya secara imajinatif. Sebagai contoh kita tidak menemukan sebuah kepastian sampai sekarang, tentang arti “minanga tamwan” yang tertulis dalam sebuah prasasti yang dianggap factor kunci da lam menentukan sejarah keberadaan Sriwijaya di masa lalu. Walaupun terjadi simpang siur pendapat, namun “minangatamwan” tetap merupakan factor kunci yang menentukan jalannya sejarah di masa lalu. Demikian juga halnya dengan Tambo Minangkabau.
Edward Djamaris (1980 : 1) menyampaikan bahwa, beberapa ahli sejarah Minangkabau setelah mencoba menggali fakta-fakta sejarah dalam Tambo Minangkabau mengalami kekecewaan. Kekecewaan itu menurut Edward, karena belum dijelaskannya kedudukan cerita, termasuk jenis cerita apa Tambo Minangkabau itu, sifat-sifat penulisannnya, dan sebagainya. Pada hal orang Minangkabau menghargai Tambo Minangkabau sebagai pusaka litere nenek moyangnya yang berisi sejarah. Dalam rumusannya Edward Djamaris menjelaskan sebagai berikut :
Tambo Minangkabau merupakan sumber pengetahuan yang berharga yang memberikan gambaran Minangkabau masa lalu yang dapat membantu kita mengetahui keperca yaan, pandangan hidup, cara berfikir, adat istiadat, dan seba gainya. Hanya dengan mengetahui latar belakang, kedudukan, jenis, dan tujuan penulisan Tambo Minangkabau baru dapat digunakan sebagai sarana untuk penelitian ilmiah bukan sastra, seperti sejarah, antropologi, dan sosiologi.
Dalam konteks tulisan ini, hampir semua Tambo Alam Minangkabau menyebut bahwa Iskandar Dzulkarnain adalah putra dari Nabi Siyst As. anak terbungsu Nabi Adam As. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa Iskandar Dzulkarnain itu sebenarnya  adalah Nabi Siyst  As. sendiri.
Menurut Tambo Alam Minangkabau, riwayat Iskandar Dzulkarnain dimulai dari Iskandar Dzulkarnain yang menjadi anak bungsu Nabi Adam A.s., karena tidak memiliki pasangan di dunia, atas berkat do’a Nabi Adam A.s. yang memohonkan jodoh untuk anak bungsunya itu, dikabulkan Tuhan Rabbul Alamin.  Putra bungsu Nabi Adam A.s. tersebut lalu dinikahkan oleh malaikat Jibril a.s.  dengan seorang putri bidadari dari surga, Jati Ratna namanya (Jati Rono, Ratna Sejati, Warna Sejati)  dan sejak itu pula ia diberi gelar kebesaran dengan nama Iskandar Dzulkarnain. Sebagian Tambo hanya menyebut “Dzulkarnain” artinya bertanduk dua. Pada awalnya tanduk itu zahir di atas kepala, tetapi kemudian tanduknya di potong sehingga tidak menakutkan manusia. Cerita ini jelas mengandung warna sufistik awal tentang asal usul kejadian, yang memerlukan kupasan tersendiri, karena mengandung kias dan ibarat berkenaan aspek zahir dan batin (tidak bisa ditafsirkan secara lahir saja).
Dengan pasangan bidadari itu Iskandar Dzulkarnain diceritakan memperoleh tiga orang putra, yakni : 1). Sultan Sri Maharaja Alif,  kemabali ke (di) benua Rum 2). Sultan Sri Maharaja Dipang (kembali ke (yang pergi) ke Tibet negeri Cina, dan 3). Sultan Sri Maharaja Diraja menjadi raja di Pariangan, Alam Minangkabau.
Banyak tambo-tambo Minangkabau mencatat kisah-kisah Sultan Is kandar Dzulkarnain ini sebagai ringkasan-ringkasan yang terpotong, se hingga urutan sejarahnya menjadi kabur, akibat keterangan yang meloncat-koncat. Hal ini dapat dilihat  dari riwayat anak bungsu Nabi Adam A.s. yang bernama Siyst yang tidak punya jodoh, kemudian kisahnya langsung melompat sampai kepada Sultan Sri Maharajo Dirajo yang kawin dengan Puti Indo Jalito di Pariangan. Agaknya cerita yang demikian merupakan sebuah penggalan yang terputus lalu disambung seenaknya saja.  
Dugaan ini, karena ada pula tambo yang menuturkan melanjutkan kisahnya sampai kepada zaman Nabi Nuh A.s. yang dikenal sebagai bapak manusia yang kedua setelah Nabi Adam As. ketika kiamat Nuh terjadi di bumi ini, setelah selamat menghadapi banjir besar, Nabi Nuh A.s. berputra tiga orang yakni Ham, Zam, dan Yafist. Yang kelak menurunkan bangsa-bangsa di dunia dengan watak kepribadian yang berbeda. Diantaranya ada pula yang menurunkan “raja-raja pertuanan, sultan-sultan”. Masalahnya sekarang, siapakah yang menyandang gelar Mahkota Daulat Sultan Sri Maharajo Dirajo yang pertama ?
Dari mana asal muasalnya ?
Siapa Sri Maharajo Dirajo sebelum Sang Sapurba kawin dengan Puti Indojalito di Pariangan. Karena ternyata gelar “Sri Maharajo Dirajo” diha diahkan oleh Pariangan kepada Sang Sapurba, Raja Natan Sangsita Sang kala yang telah berjasa mengalahkan Naga yang datang dari laut melilit gunung Marapi.   Lalu dikawinkan dengan Puti Indo Jalito, dan dihadiahi gelar Sri Maharja Diraja di Pariangan. Artinya gelar Sri Maharaja Diraja telah turun temurun diwarisi secara adat oleh Pariangan, sehingga berhak untuk menyandangkannya/ menghadiahkannya kepada tokoh ter tentu yang barjasa di masa itu. 
Tambo Alam Minangkabau selalu memulai dengan Sultan Sri Maha raja Diraja sebagai tokoh sentral Daulat Yang Dipertuan Daulat Pulau Perca, yang kemudian nama Pulau Perca berganti menjadi Pulau Emas (Swarnabumi), Pulau Paco, Pulau Sumatera, sampai akhirnya kepada zaman Minangkabau yang berpusat di Pagaruyung. Menurunkan pula Sultan-Sultan, dan dari anak cucu mereka pula banyak raja raja yang terse bar di berbagai negeri berkuasa pada zamannya di pulau Sumatera, bahkan sampai ke Negeri Sembilan, Singapura, Johor, Serawak dan Brunei Darus salam merupakan belahan persaudaraannya. 
Tambo Minangkabau mengisahkan bahwa Daulat  Sultan Sri Maha raja Diraja naik ke pinggang gunung Marapi sampai di Pariangankawin dengan Puti Indo Jalito dan berputra seorang yang bernama Sutan Paduko Basa bergelar Datuk Ketumanggungan.  Apabila yang dimaksud disini adalah ayah dan ibu kandung Sutan Paduko Basa yang bergelarDatuk Ketumanggungan, maka yang menyandang gelar Daulat Sultan Sri Maha raja Diraja itu adalah Raja Natan Sangsita Sangkala, Sang Pertalo Kala  yang naik ke Pariangan, kemudian nikah dengan Puti Indo Jalito, adik kandung Datuk Suri Dirajo Pangulu Pariangan di zaman itu. 
Di Pariangan inilah ia dinobatkan dengan menjunjung gelar  mahkota  Daulat Sri Maharaja Diraja tersebut, akibat perkawinannya dengan Putri Indo Jalito. Ini merupakan sebuahkurun dari berkurun-kurun peristiwa sejarah yang tenggelam di masa lalu, di lereng Gunung Marapi.  Artinya penggalan sejarah ini terjadi pada zaman seorang yang dinobatkan sebagai Sultan Maharaja Diraja yang kawin dengan seorang Putri Pariangan berna ma Indojalito (Indrajelita) [1].
Pada hal, tokoh Sri Maharaja Diraja di waktu itu adalah seorang Raja dari  Palembang yang juga menjadi raja di Natanpura. Raja ini bernama  Sangsita Sangkala, Sang Pertalo Kala menantu dari raja Palembang, yang telah menikah dengan Putri Bijayo Dewi anak raja Palembang, kemudian didudukkan pula sebagai Raja Palembang.
Di Palembang, sang istri melahirkan 4 orang putra putri, seperti telah disebutkan terdahulu, yakni Putri Sri Dewi yang pergi ke Cina, Putri Candra Dewi ke Madang Kamulan Majapahit,Rajo Mandalika ke Tanjung Pura, dan Sang Pertalo Jama Nila Utama menjadi Raja di Temasik. Nama Temasik kemudian berganti menjadi Singapura di abad ke 13. Berarti yang disebut sebagai Nila Utama dengan gelar Sang Sapurba menurut Sejarah Melayu, tidak lain adalah Sang Sita Sangkala sesuai pula menurut Tambo Rajo-Rajo Gunung Merapi di Pariangan. Zamannya jelas sebelum abad ke 13, sebelum munculnya nama Singapura yang didirikan oleh putra Sang Sapurba sendiri. 
Sementara itu Raja Palembang ini juga telah menikah dengan Putri Betari Dewi di Natanpura, kemudian diangkat dan berkedudukan sebagai raja pula di Natan, dengan sebutan Raja Natan. Kemudian Raja Natan naik memudiki hulu Batang Hari, sampai ke Melayu Kampung Dalam Tiga La ras (Siguntur Pulau Punjung sekarang). Raja Natan ini  nikah pula dengan Putri Reno Jani kemenakan kandung Tuanku Tiga Laras, Tiang Panjang, Sri Baginda Tribuwanaraja Mauliwarmadewa (1275 – 1300 M). Kelak kemudian Putri Reno Jani melahirkan pula beberapa  orang putra dan putri.
Seperti telah disebutkan, kemudian Raja Natan atas permintaan Cati Bilang Pandai, raja ini datang ke Pariangan untuk membantu negeri itu yang sedang “dipalut Ular Naga” . Atas kerjasama yang baik antara Cati Bilang Pandai dengan Raja ini, akhirnya “Ular Naga” dapat dilumpuhkan. Negeri Pariangan di pinggang Gunung Merapi menjadi aman kembali.
Dengan rasa terima kasih akhirnya Sang Rajo dijodohkan dengan Putri Indo Jalito, adik kandung satu-satunya dari Datuk Suri Dirajo yang waktu itu adalah pemimpin Pariangan sebagai Pangulu pertama di Pariangan. Dengan demikian berdasarkan uraian Tambo yang berceceran[2]  dapat disimpulkan bahwa Raja Sangsita Sangkala memiliki empat orang istri, yakni :
1). Putri Bijayo Dewi di Palembang,
2). Putri Betari Dewi di Natanpura,
3). Putri Reno Jani di  Melayu Kampung Dalam Tiga Laras, dan
4). Putri Indo Jalito di Pariangan.[3]
Putri Reno Jani yang berasal dari Melayu Kampung Dalam Tigo Laras kemudian di bawa Raja Natan Sangsita Sangkala ke lereng Gunung Marapi, dan ditempatkan di nagari Kumanis dalam Luak Tanah Datar. Putri ini kemudian terkenal dengan sebutannya sebagai Putri Kumanis.[4]
Setelah beberapa lama Daulat Yang Dipertuan Sri Maharajo Dirajo ini meninggal dunia di Pariangan. Permaisuri beliau Puti Indo Jalito, kemudian kawin pula dengan Cati Bilang Pandai yang menyandang gelar Niniek Indojati dan memperoleh beberapa orang anak. Menurut Tambo Tinggi Indrapura, Indrajati atau Niniek Indojati  berasal dari Indrapura.
Yang tertua dari anak anak tersebut kelak kemudian diberi gelar Datuk Perpatih Nan Sabatang. Dalam sejarahnya kemudian kedua putra ini menjadi tokoh utama  pemikir dan pendiri Adat Alam Minangkabau, yang berpusat di Pariangan. .Bagaimana pula dengan cerita yang lain ? - tulisan sebelumnya klik disni (bersambung)
Emral Djamal Dt. Rajo Mudo
Dok. Salimbado / diperbaharui, 2012, - (16 Desember 2012 pukul 18:37 –fb)
[1] Indojalito, Indrajelita tidak sama dengan Indojati, Indojaliah, Indahjaliah, seperti ditulis sebagian para penulis Tambo. Perlu hati-hati dalam menuliskan nama-nama raja-raja atau putri-putri Minangkabau yang secara tradisi banyak menyandang nama dan gelar yang turun temurun, sehingga dapat mengaburkan periode sejarahnya.  
[2] Banyak penulis Tambo hanya memenggal sebagian-sebagian saja data sejarah yang ada  sesuai dengan sisi pandang mereka sendiri. Sehingga tidak ayal lagi terjadinya kecenderungan untuk menafikan bagian-bagian sejarah tertentu untuk mengisbatkan sejarah nagari sendiri.  Akibatnya berbagai informasi sejarah menjadi berceceran di pedalaman, terutama pada zuriat keturunan masing-masing istri raja tersebut. Cerita sejarah menjadi tumpang tindih, ketika semua keturunan raja-raja di Minangkabau mengaku dari keturunan Iskandar Dzulkarnain tetapi tidak mampu menjelaskan silsilah keturunan yang sampai ke negerinya sendiri.  Ini terbukti dari empat istri Sangsita Sangkala yang menjunjung gelar Daulat Sri Maharajo Dirajo Pulau Perca, yang kelak menurunkan raja-raja mengisi wilayah Alam Minangkabau di pulau Perca sampai ke rantaunya.  
[3] Putri Indo Jalito adalah generasi terakhir keturunan raja-rajo Putri Gunung Marapi di Pariangan. Diakui sebagai Ninik yang menurunkan raja-raja Alam Minangkabau berikut nya di Pagaruyung. 

[4] Putri Kumanis setelah meninggalnya Raja Natan Sangsita Sangkala,  kemudian kem bali ke Suwarnapura, Sumpur Kudus. Dari Putri inilah asal usul seluruh cucuran raja-raja Sumpur Kudus di Alam Minangkabau yang kelak kemudian bertebaran sampai ke rantau.  



Emral Djamal Datuk Rajo Mudo (lahir di Nagari Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 22 Maret 1942; umur 71 tahun) adalah seorang budayawan, penggali dan penggerak silat tradisional Minangkabau, sekaligus penghulu dari Suku Tanjung di Nagari Bayang. Ia sering menjadi narasumber dan pemakalah pada berbagai forum diskusi tentang budaya alam Minangkabau, baik di dalam atau di luar daerah Sumatera Barat. Tulisan-tulisannya banyak dimuat dalam beberapa harian yang terbit di Padang. Ia banyak menulis tentang silek, adat, dan sejarah Minangkabau yang digali dari warisan tradisi di Minangkabau yang berupa pidato-pidato adat, gelar-gelar adat, pitutur, wawancara dengan para pemuka adat dan tuo silek, pepatah petitih, dan naskah-naskah kuno. Ia menjadi salah seorang penggerak kegiatan Galanggang Siliah Baganti (GSB), suatu acara festival silat tradisional Minangkabau sebagai bentuk nyata dari upaya mempertahankan tradisi silek di Minangkabau dari kepunahan.
Sejak tahun 1989, ia mulai menelusuri, meneliti, dan menulis sejarah Kesultanan Inderapura atas permintaan Sutan Boerhanoeddin Sultan Firmansyah Alamsyah, ahli waris Kerajaan Kesultanan Inderapura agar tidak tenggelam begitu saja karena lokasi Inderapura saat sekarang terpencil dan jauh dari pusat kota. Sulit membayangkan saat sekarang bahwa Kerajaan Inderapura di masa lalu adalah daerah yang besar dan ramai dikunjungi oleh berbagai bangsa di seluruh dunia. Penelitian tersebut kemudian dimuat di Harian Singgalang dalam bentuk tulisan bersambung dan naskah ranji raja-raja di Kesultanan Inderapura yang dimiliki oleh Soetan Boerhanoeddin dipublikasikan pada Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara VIII di Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, 26–28 Juli 2004.