Sejak tahun 1989, ia mulai menelusuri, meneliti, dan menulis sejarah
Kesultanan Inderapura atas permintaan Sutan Boerhanoeddin Sultan
Firmansyah Alamsyah, ahli waris Kerajaan Kesultanan Inderapura agar
tidak tenggelam begitu saja karena lokasi Inderapura saat sekarang
terpencil dan jauh dari pusat kota. Sulit membayangkan saat sekarang
bahwa Kerajaan Inderapura di masa lalu adalah daerah yang besar dan
ramai dikunjungi oleh berbagai bangsa di seluruh dunia. Penelitian
tersebut kemudian dimuat di Harian Singgalang dalam bentuk tulisan
bersambung dan naskah ranji raja-raja di Kesultanan Inderapura yang
dimiliki oleh Soetan Boerhanoeddin dipublikasikan pada Simposium
Internasional Pernaskahan Nusantara VIII di Kampus Universitas Islam
Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, 26–28 Juli 2004.
Rabu, 12 November 2014
Emral
Djamal Datuk Rajo Mudo (lahir di Nagari Bayang, Kabupaten Pesisir
Selatan, Sumatera Barat, 22 Maret 1942; umur 71 tahun) adalah seorang
budayawan, penggali dan penggerak silat
tradisional Minangkabau, sekaligus penghulu dari Suku Tanjung di Nagari
Bayang. Ia sering menjadi narasumber dan pemakalah pada berbagai forum
diskusi tentang budaya alam Minangkabau, baik di dalam atau di luar
daerah Sumatera Barat. Tulisan-tulisannya banyak dimuat dalam beberapa
harian yang terbit di Padang. Ia banyak menulis tentang silek, adat, dan
sejarah Minangkabau yang digali dari warisan tradisi di Minangkabau
yang berupa pidato-pidato adat, gelar-gelar adat, pitutur, wawancara
dengan para pemuka adat dan tuo silek, pepatah petitih, dan
naskah-naskah kuno. Ia menjadi salah seorang penggerak kegiatan
Galanggang Siliah Baganti (GSB), suatu acara festival silat tradisional
Minangkabau sebagai bentuk nyata dari upaya mempertahankan tradisi silek
di Minangkabau dari kepunahan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar