Sabtu, 15 November 2014
Rabu, 12 November 2014
Emral Djamal menulis catatan baru: Menguak Tabir Alam Fikiran MINANGKABAU.
Banyak para ahli ilmu pengetahuan telah menyadari bahwa pengetahuan lewat berbagai peninggalan benda-benda budaya dan pemikiran-pemikirannya di masa lalu, serta pengenalan tentang hakekat kemanusiaan, akan memberi arah tuntunan dalam pencarian-pencarian nilai-nilai hidup manusia dan kemanusiaan itu. Untuk kemudian dapat becermin diri.
Dan dengan mendalami merenungi, dan memahami nilai-nilai akal budi manusia dan kemanusiaannya, serta berbagai nilai-nilai peninggalannya tentulah dapat membangkitkan potensi dari aras kesadaran manusia, yang pada gilirannya kemudian dapat mewujudkan upaya-upaya baru dalam mengendalikan sifat-sifat manusia kearah kemanusiaannya yang “manusiawi”. Karena manusia yang “berperi kemanusiaan”, hanya dapat terwujud pada pribadi-pribadi yang benar-benar menyadari, memahami, dan memaklumi hakekat manusia dan kemanusiaan “yang berperi kemanusiaan” itu sendiri. Lain tidak.
Berbagai tingkat kecerdasan sesuai dengan kualitas akal budi yang dimiliki manusia sepanjang zaman, mencoba merumuskan nilai-nilai kemanusiaan itu. Namun selalu saja terbentur kepada hal-hal yang bersifat relatif. Dan pada tingkat kesadarannya yang paling tinggi tentang yang “relatif” itu, yang tak mungkin lagi dijangkau dengan akal-fikirannya, dengan kecerdasannya, akhirnya manusia itu akan jatuh tersungkur.
Menyerah dalam kesadaran lain, bahwa di balik kecerdasan akal-fikiran ini, ada “sesuatu kekuatan” yang tak mungkin ditembus dengan akal fikiran, bahkan pada puncaknya akal fikiran itu “dipaksa” berhenti untuk kemudian menyerah dan berserah diri kepada kekuasaan Tuhan Yang Maha Tinggi.
Bila manusia, khususnya manusia dengan akal budi “Minangkabau” dalam perjalanan sejarahnya telah sukses melakukan perantauan fisik, dan perantauan intelektual di luar sana maka sekarang haruslah diimbangi dengan kemampuan penalaran nilai-nilai warisan budaya lokal (nilai-nilai kearifan local) peninggalan nenek moyangnya yang hidup menetap di alam kawasannya sendiri.
Sehingga dapat menolak sindiran atau penafsiran sementara orang, bahwa “Minangkabau” sekarang seperti “mangkutak” yang hanya bermain melepas layang-layangnya ke langit tinggi. Sehingga menyebalkan hati “sabai nan haluih” sang kakak perempuannya yang kreatif dan produktif, bahkan seorang pendekar putri yang mampu “tagak luruih bakato bana” mampu bicara benar dalam membela ketidak adilan.
Semangat mengembara perlu terus dibangkitkan, dikobarkan serta dikembangkan. Terutama pengembaraan akal budi yang memanusia. Rasa puas diri dan rasa tidak berdaya sama saja bahayanya. Namun lebih dari itu, pikiran-pikiran bernas dari para perenung kreatif, seharusnya tidak hanya tinggal di langit, terbang diawang-awang, tetapi haruslah turun kembali “membumi”, ber- apresiasi dengan aplikasinya di dunia nyata.
Bila “Minangkabau” tidak berjuang jadi manusia “Minangkabau Baru”, yang juga berarti “Manusia Indonesia Baru”, manusia Universal, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama nilai-nilai budaya “Minangkabau” termasuk “limbago”nya akan terbenam jauh ke kerak bumi. Dan “Minangkabau” sebagai wilayah budaya yang seharusnya memperkaya khasanah budaya Indonesia bahkan Nusantara bisa lenyap dari peta kebudayaan. Akibatnya “tidak diperhitungkan lagi”, karena dianggap tidak ada.
Tulisan ini mencoba mangampuangkan nan taserak, mengais-ngais tanah pijakan, marosok-rosok kedalamn gauang Alam Fikiran Minangkabau itu, lalu dalam sebuah diskusi pada komunitas/grup kecil Lembaga Kajian Tradisi Minangkabau, mencoba “maindang manampi tareh”, memilah-milah topik, memperkatakannya, mencencang, membolak balikkan, menjawab, atau merumuskannya terserah kepada siapa yang menikmatinya. Hasil pembicaraan itu kemudian disusun dalam bentuk tulisan khas yang disebut Silek Kato.
Seperti guntingan-guntingan kain tak berguna, menyambung paco-paco dan menjahitnya menjadi lembaran-lembaran baru yang warna warni bagaikan tirai atau tabir yang dapat dibentangkan pada dinding, diruang ruang khalayak.
Dan tulisan ini kemudian menjadi artikel dengan 28 buah anak judul yang telah dimuat secara bersambung pada Mingguan Singgalang, dibawah judul pokok (rubrik) “Silek Kato” Minggu 9 Maret 2003 sampai dengan Minggu 14 September 2003 yang lalu.
Atas saran dan permintaan teman-teman, penulis menyusunnya kembali dalam bentuk kumpulan ini. Untuk melengkapinya, ada 13 judul tulisan lagi yang ditambahkan, sebagian telah dimuat juga pada Singgalang Minggu tahun 2003 dan sebagian ada yang belum.
Semoga tulisan ini dapat menggelitik para ahli, terutama para pemerhati, bahkan peminat serius yang melakukan penelitian nilai-nilai kearifan lokal Budaya Alam Minangkabau di Sumatera Barat ini, atau pemerhati budaya dimana saja, terserah memilah-milahnya untuk mendapatkan judul lembaran paco-paco baru sebagai topik diskusi, dalam upaya mendalami lebih baik, sesuai dengan minat masing-masing.
Emral Djamal bersama Nur Balkis dan 12 lainnya
MALIN BATU, LEGENDA BATU SEJARAH IV
Tuhanpun murka
laut berombak badai menggulung
gelombang menghempas
kapal pecah nakhoda karam di bandarnya
terdampar di pesisir samudera
si malin kaya disambar tasbih sigaga
malin hilang, kaya dikundang-kunda ng
hati terbuang
Sang Sangkala meniup nafiri Ilahi
anjing melolong di malam sepi
murai berkicau senja
ayam berkokok dinihari
batu-batu membatu
batu batu membatu, sunyi
hai batu !
batu membatu batu batu batu membatu
jadilah Maliiin.
Terdengar suara sipongang dalam lubuk
menembus langit tinggi di keheningan sepi,
menusuk hari-hariku di malam sunyi,
sendiri.
Lubuk Sipunai, 1994
Tuhanpun murka
laut berombak badai menggulung
gelombang menghempas
kapal pecah nakhoda karam di bandarnya
terdampar di pesisir samudera
si malin kaya disambar tasbih sigaga
malin hilang, kaya dikundang-kunda
hati terbuang
Sang Sangkala meniup nafiri Ilahi
anjing melolong di malam sepi
murai berkicau senja
ayam berkokok dinihari
batu-batu membatu
batu batu membatu, sunyi
hai batu !
batu membatu batu batu batu membatu
jadilah Maliiin.
Terdengar suara sipongang dalam lubuk
menembus langit tinggi di keheningan sepi,
menusuk hari-hariku di malam sunyi,
sendiri.
Lubuk Sipunai, 1994
Iskandar Dzulkarnain (Bagian kedua dari satu tulisan): Tambo ALam Minangkabau
Oleh : Emral Djamal
Dt. Rajo Mudo
\Tambo Alam
Minangkabau
Walaupun Tambo
Minangkabau sering dianggap sebagai legenda, dongeng atau mithos dengan cerita
sejarah yang berbelit-belit, namun bila di simak dan ditelusuri secara
hati-hati dengan teknik dan metode ilmunya dengan kemampuan menafsirkan ungkapan-ungkapan
petuah, pepatah-petitih dan berbagai kias ibarat yang terdapat di dalamnya,
ternyata Tambo Minangkabau beserta turunannya tidak saja mengandung
ajaran-ajaran falsafah adat yang mulia dengan nilai-nilai luhur yang
diungkapkan dengan gaya bahasa seni sastra yang tinggi (Nasroen, l957) tetapi
juga merupakan “bukti sejarah otentik” yang lengkap, dan tidak mudah begitu
saja dikesam pingkan oleh para ahli dan peneliti sejarah, hanya karena “tidak
mampu” menafsirkan atau memahami sastra dan bahasa kias yang terdapat dalam
Tambo Minangkabau.
![]() |
| Emral Djamal |
Anehnya banyak pula
para ahli yang “berhabis-habisan” untuk men terjemahkan isi berbagai prasasti
yang hanya terdiri dari beberapa baris untuk kemudian menafsirkannya secara
imajinatif. Sebagai contoh kita tidak menemukan sebuah kepastian sampai
sekarang, tentang arti “minanga tamwan” yang tertulis dalam sebuah prasasti
yang dianggap factor kunci da lam menentukan sejarah keberadaan Sriwijaya di
masa lalu. Walaupun terjadi simpang siur pendapat, namun “minangatamwan” tetap
merupakan factor kunci yang menentukan jalannya sejarah di masa lalu. Demikian
juga halnya dengan Tambo Minangkabau.
Edward Djamaris (1980
: 1) menyampaikan bahwa, beberapa ahli sejarah Minangkabau setelah mencoba
menggali fakta-fakta sejarah dalam Tambo Minangkabau mengalami kekecewaan.
Kekecewaan itu menurut Edward, karena belum dijelaskannya kedudukan cerita,
termasuk jenis cerita apa Tambo Minangkabau itu, sifat-sifat penulisannnya, dan
sebagainya. Pada hal orang Minangkabau menghargai Tambo Minangkabau sebagai
pusaka litere nenek moyangnya yang berisi sejarah. Dalam rumusannya Edward
Djamaris menjelaskan sebagai berikut :
Tambo Minangkabau
merupakan sumber pengetahuan yang berharga yang memberikan gambaran Minangkabau
masa lalu yang dapat membantu kita mengetahui keperca yaan, pandangan hidup,
cara berfikir, adat istiadat, dan seba gainya. Hanya dengan mengetahui latar
belakang, kedudukan, jenis, dan tujuan penulisan Tambo Minangkabau baru dapat
digunakan sebagai sarana untuk penelitian ilmiah bukan sastra, seperti sejarah,
antropologi, dan sosiologi.
Dalam konteks tulisan
ini, hampir semua Tambo Alam Minangkabau menyebut bahwa Iskandar Dzulkarnain
adalah putra dari Nabi Siyst As. anak terbungsu Nabi Adam As. Tetapi ada juga yang
mengatakan bahwa Iskandar Dzulkarnain itu sebenarnya adalah Nabi
Siyst As. sendiri.
Menurut Tambo Alam
Minangkabau, riwayat Iskandar Dzulkarnain dimulai dari Iskandar
Dzulkarnain yang menjadi anak bungsu Nabi Adam A.s., karena tidak
memiliki pasangan di dunia, atas berkat do’a Nabi Adam A.s. yang memohonkan
jodoh untuk anak bungsunya itu, dikabulkan Tuhan Rabbul Alamin. Putra
bungsu Nabi Adam A.s. tersebut lalu dinikahkan oleh malaikat Jibril a.s.
dengan seorang putri bidadari dari surga, Jati Ratna namanya
(Jati Rono, Ratna Sejati, Warna Sejati) dan sejak itu pula ia diberi
gelar kebesaran dengan nama Iskandar Dzulkarnain. Sebagian
Tambo hanya menyebut “Dzulkarnain” artinya bertanduk dua. Pada awalnya tanduk
itu zahir di atas kepala, tetapi kemudian tanduknya di potong sehingga tidak
menakutkan manusia. Cerita ini jelas mengandung warna sufistik awal tentang
asal usul kejadian, yang memerlukan kupasan tersendiri, karena mengandung kias
dan ibarat berkenaan aspek zahir dan batin (tidak bisa ditafsirkan secara lahir
saja).
Dengan pasangan
bidadari itu Iskandar Dzulkarnain diceritakan memperoleh tiga
orang putra, yakni : 1). Sultan Sri Maharaja Alif, kemabali
ke (di) benua Rum 2). Sultan Sri Maharaja Dipang (kembali ke
(yang pergi) ke Tibet negeri Cina, dan 3). Sultan Sri Maharaja Diraja menjadi
raja di Pariangan, Alam Minangkabau.
Banyak tambo-tambo
Minangkabau mencatat kisah-kisah Sultan Is kandar Dzulkarnain ini
sebagai ringkasan-ringkasan yang terpotong, se hingga urutan sejarahnya menjadi
kabur, akibat keterangan yang meloncat-koncat. Hal ini dapat dilihat dari
riwayat anak bungsu Nabi Adam A.s. yang bernama Siyst yang tidak punya jodoh,
kemudian kisahnya langsung melompat sampai kepada Sultan Sri Maharajo
Dirajo yang kawin dengan Puti Indo Jalito di Pariangan. Agaknya cerita
yang demikian merupakan sebuah penggalan yang terputus lalu disambung seenaknya
saja.
Dugaan ini, karena ada
pula tambo yang menuturkan melanjutkan kisahnya sampai kepada zaman Nabi Nuh
A.s. yang dikenal sebagai bapak manusia yang kedua setelah
Nabi Adam As. ketika kiamat Nuh terjadi di bumi ini, setelah
selamat menghadapi banjir besar, Nabi Nuh A.s. berputra tiga orang yakni Ham,
Zam, dan Yafist. Yang kelak menurunkan bangsa-bangsa di dunia dengan watak
kepribadian yang berbeda. Diantaranya ada pula yang menurunkan “raja-raja
pertuanan, sultan-sultan”. Masalahnya sekarang, siapakah yang menyandang gelar Mahkota
Daulat Sultan Sri Maharajo Dirajo yang pertama ?
Dari mana asal
muasalnya ?
Siapa Sri Maharajo
Dirajo sebelum Sang Sapurba kawin dengan Puti Indojalito di Pariangan. Karena
ternyata gelar “Sri Maharajo Dirajo” diha diahkan oleh Pariangan kepada Sang
Sapurba, Raja Natan Sangsita Sang kala yang telah berjasa mengalahkan Naga yang
datang dari laut melilit gunung Marapi. Lalu dikawinkan dengan Puti
Indo Jalito, dan dihadiahi gelar Sri Maharja Diraja di Pariangan. Artinya gelar
Sri Maharaja Diraja telah turun temurun diwarisi secara adat oleh Pariangan,
sehingga berhak untuk menyandangkannya/ menghadiahkannya kepada tokoh ter tentu
yang barjasa di masa itu.
Tambo Alam Minangkabau
selalu memulai dengan Sultan Sri Maha raja Diraja sebagai
tokoh sentral Daulat Yang Dipertuan Daulat Pulau Perca, yang
kemudian nama Pulau Perca berganti menjadi Pulau Emas (Swarnabumi), Pulau Paco,
Pulau Sumatera, sampai akhirnya kepada zaman Minangkabau yang berpusat di
Pagaruyung. Menurunkan pula Sultan-Sultan, dan dari anak cucu mereka pula
banyak raja raja yang terse bar di berbagai negeri berkuasa pada zamannya di
pulau Sumatera, bahkan sampai ke Negeri Sembilan, Singapura, Johor, Serawak dan
Brunei Darus salam merupakan belahan persaudaraannya.
Tambo Minangkabau
mengisahkan bahwa Daulat Sultan Sri Maha raja Diraja naik
ke pinggang gunung Marapi sampai di Pariangan, kawin dengan Puti
Indo Jalito dan berputra seorang yang bernama Sutan Paduko
Basa bergelar Datuk Ketumanggungan. Apabila yang
dimaksud disini adalah ayah dan ibu kandung Sutan Paduko Basa yang
bergelarDatuk Ketumanggungan, maka yang menyandang gelar Daulat Sultan
Sri Maha raja Diraja itu adalah Raja Natan Sangsita Sangkala, Sang
Pertalo Kala yang naik ke Pariangan, kemudian nikah dengan Puti
Indo Jalito, adik kandung Datuk Suri Dirajo Pangulu
Pariangan di zaman itu.
Di Pariangan inilah ia
dinobatkan dengan menjunjung gelar mahkota Daulat Sri
Maharaja Diraja tersebut, akibat perkawinannya dengan Putri
Indo Jalito. Ini merupakan sebuahkurun dari berkurun-kurun
peristiwa sejarah yang tenggelam di masa lalu, di lereng Gunung Marapi.
Artinya penggalan sejarah ini terjadi pada zaman seorang yang dinobatkan
sebagai Sultan Maharaja Diraja yang kawin dengan seorang Putri Pariangan berna
ma Indojalito (Indrajelita) [1].
Pada hal, tokoh Sri
Maharaja Diraja di waktu itu adalah seorang Raja dari Palembang yang juga
menjadi raja di Natanpura. Raja ini bernama Sangsita Sangkala, Sang
Pertalo Kala menantu dari raja Palembang, yang telah menikah dengan Putri
Bijayo Dewi anak raja Palembang, kemudian didudukkan pula sebagai Raja
Palembang.
Di Palembang, sang
istri melahirkan 4 orang putra putri, seperti telah disebutkan terdahulu, yakni Putri
Sri Dewi yang pergi ke Cina, Putri Candra Dewi ke Madang
Kamulan Majapahit,Rajo Mandalika ke Tanjung Pura, dan Sang
Pertalo Jama Nila Utama menjadi Raja di Temasik. Nama Temasik kemudian
berganti menjadi Singapura di abad ke 13. Berarti yang disebut sebagai Nila
Utama dengan gelar Sang Sapurba menurut Sejarah Melayu, tidak lain adalah Sang
Sita Sangkala sesuai pula menurut Tambo Rajo-Rajo Gunung Merapi di
Pariangan. Zamannya jelas sebelum abad ke 13, sebelum munculnya nama Singapura
yang didirikan oleh putra Sang Sapurba sendiri.
Sementara itu Raja
Palembang ini juga telah menikah dengan Putri Betari Dewi di Natanpura,
kemudian diangkat dan berkedudukan sebagai raja pula di Natan, dengan sebutan
Raja Natan. Kemudian Raja Natan naik memudiki hulu Batang Hari, sampai ke
Melayu Kampung Dalam Tiga La ras (Siguntur Pulau Punjung sekarang). Raja Natan
ini nikah pula dengan Putri Reno Jani kemenakan kandung
Tuanku Tiga Laras, Tiang Panjang, Sri Baginda Tribuwanaraja Mauliwarmadewa
(1275 – 1300 M). Kelak kemudian Putri Reno Jani melahirkan pula beberapa
orang putra dan putri.
Seperti telah disebutkan,
kemudian Raja Natan atas permintaan Cati Bilang Pandai, raja ini datang ke
Pariangan untuk membantu negeri itu yang sedang “dipalut Ular Naga” . Atas
kerjasama yang baik antara Cati Bilang Pandai dengan Raja ini, akhirnya “Ular
Naga” dapat dilumpuhkan. Negeri Pariangan di pinggang Gunung Merapi menjadi
aman kembali.
Dengan rasa terima
kasih akhirnya Sang Rajo dijodohkan dengan Putri Indo Jalito, adik kandung
satu-satunya dari Datuk Suri Dirajo yang waktu itu adalah pemimpin Pariangan
sebagai Pangulu pertama di Pariangan. Dengan demikian berdasarkan uraian Tambo
yang berceceran[2] dapat disimpulkan bahwa Raja Sangsita Sangkala
memiliki empat orang istri, yakni :
1). Putri Bijayo Dewi
di Palembang,
2). Putri Betari Dewi
di Natanpura,
3). Putri Reno Jani
di Melayu Kampung Dalam Tiga Laras, dan
4). Putri Indo Jalito
di Pariangan.[3]
Putri Reno Jani yang
berasal dari Melayu Kampung Dalam Tigo Laras kemudian di bawa Raja Natan
Sangsita Sangkala ke lereng Gunung Marapi, dan ditempatkan di nagari Kumanis
dalam Luak Tanah Datar. Putri ini kemudian terkenal dengan sebutannya sebagai
Putri Kumanis.[4]
Setelah beberapa lama Daulat
Yang Dipertuan Sri Maharajo Dirajo ini meninggal dunia di Pariangan.
Permaisuri beliau Puti Indo Jalito, kemudian kawin pula dengan Cati
Bilang Pandai yang menyandang gelar Niniek Indojati dan memperoleh
beberapa orang anak. Menurut Tambo Tinggi Indrapura, Indrajati atau Niniek
Indojati berasal dari Indrapura.
Yang tertua dari anak
anak tersebut kelak kemudian diberi gelar Datuk Perpatih Nan Sabatang.
Dalam sejarahnya kemudian kedua putra ini menjadi tokoh utama pemikir dan
pendiri Adat Alam Minangkabau, yang berpusat di Pariangan. .Bagaimana pula
dengan cerita yang lain ? - tulisan sebelumnya klik disni (bersambung)
Emral Djamal Dt. Rajo
Mudo
Dok. Salimbado /
diperbaharui, 2012, - (16 Desember 2012 pukul 18:37 –fb)
[1] Indojalito,
Indrajelita tidak sama dengan Indojati, Indojaliah, Indahjaliah, seperti
ditulis sebagian para penulis Tambo. Perlu hati-hati dalam menuliskan nama-nama
raja-raja atau putri-putri Minangkabau yang secara tradisi banyak menyandang
nama dan gelar yang turun temurun, sehingga dapat mengaburkan periode
sejarahnya.
[2] Banyak penulis
Tambo hanya memenggal sebagian-sebagian saja data sejarah yang ada sesuai
dengan sisi pandang mereka sendiri. Sehingga tidak ayal lagi terjadinya
kecenderungan untuk menafikan bagian-bagian sejarah tertentu untuk mengisbatkan
sejarah nagari sendiri. Akibatnya berbagai informasi sejarah menjadi
berceceran di pedalaman, terutama pada zuriat keturunan masing-masing istri raja
tersebut. Cerita sejarah menjadi tumpang tindih, ketika semua keturunan
raja-raja di Minangkabau mengaku dari keturunan Iskandar Dzulkarnain tetapi
tidak mampu menjelaskan silsilah keturunan yang sampai ke negerinya
sendiri. Ini terbukti dari empat istri Sangsita Sangkala yang menjunjung
gelar Daulat Sri Maharajo Dirajo Pulau Perca, yang kelak menurunkan raja-raja
mengisi wilayah Alam Minangkabau di pulau Perca sampai ke
rantaunya.
[3] Putri Indo Jalito
adalah generasi terakhir keturunan raja-rajo Putri Gunung Marapi di Pariangan.
Diakui sebagai Ninik yang menurunkan raja-raja Alam Minangkabau berikut nya di
Pagaruyung.
[4] Putri Kumanis
setelah meninggalnya Raja Natan Sangsita Sangkala, kemudian kem bali ke
Suwarnapura, Sumpur Kudus. Dari Putri inilah asal usul seluruh cucuran
raja-raja Sumpur Kudus di Alam Minangkabau yang kelak kemudian bertebaran
sampai ke rantau.
Emral
Djamal Datuk Rajo Mudo (lahir di Nagari Bayang, Kabupaten Pesisir
Selatan, Sumatera Barat, 22 Maret 1942; umur 71 tahun) adalah seorang
budayawan, penggali dan penggerak silat
tradisional Minangkabau, sekaligus penghulu dari Suku Tanjung di Nagari
Bayang. Ia sering menjadi narasumber dan pemakalah pada berbagai forum
diskusi tentang budaya alam Minangkabau, baik di dalam atau di luar
daerah Sumatera Barat. Tulisan-tulisannya banyak dimuat dalam beberapa
harian yang terbit di Padang. Ia banyak menulis tentang silek, adat, dan
sejarah Minangkabau yang digali dari warisan tradisi di Minangkabau
yang berupa pidato-pidato adat, gelar-gelar adat, pitutur, wawancara
dengan para pemuka adat dan tuo silek, pepatah petitih, dan
naskah-naskah kuno. Ia menjadi salah seorang penggerak kegiatan
Galanggang Siliah Baganti (GSB), suatu acara festival silat tradisional
Minangkabau sebagai bentuk nyata dari upaya mempertahankan tradisi silek
di Minangkabau dari kepunahan.
Sejak tahun 1989, ia mulai menelusuri, meneliti, dan menulis sejarah
Kesultanan Inderapura atas permintaan Sutan Boerhanoeddin Sultan
Firmansyah Alamsyah, ahli waris Kerajaan Kesultanan Inderapura agar
tidak tenggelam begitu saja karena lokasi Inderapura saat sekarang
terpencil dan jauh dari pusat kota. Sulit membayangkan saat sekarang
bahwa Kerajaan Inderapura di masa lalu adalah daerah yang besar dan
ramai dikunjungi oleh berbagai bangsa di seluruh dunia. Penelitian
tersebut kemudian dimuat di Harian Singgalang dalam bentuk tulisan
bersambung dan naskah ranji raja-raja di Kesultanan Inderapura yang
dimiliki oleh Soetan Boerhanoeddin dipublikasikan pada Simposium
Internasional Pernaskahan Nusantara VIII di Kampus Universitas Islam
Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, 26–28 Juli 2004.
LAYANG – LAYANG DAREK
(Jeritan para leluhur)
Ada Naniang
bersarang di telinga ini
ketika dengung yang bergetar
diantara kedua kepak dadanya
menyatakan diri
di Alam ini
dari darek getaran itu menggema
sampai ke rantau lalu menukik ke dalam laut
(Jeritan para leluhur)
Ada Naniang
bersarang di telinga ini
ketika dengung yang bergetar
diantara kedua kepak dadanya
menyatakan diri
di Alam ini
dari darek getaran itu menggema
sampai ke rantau lalu menukik ke dalam laut
layang – layang darek itu bermain
bagai tuangan tembaga menetes halus
rinainya pariangan dari sebuah kancah
terawangan lidah
Inilah mainan Aulia negeri ini !
Memanggil anak kemenakan
pulang dari rantau
berkhabar pada nenek moyang
menyantuni kampung, dan
sanak famili yang berlayar
di rantau lautan tak bertepi
Berkundano di rimba larangan
mengawasi gembalaan yang sesat
menelusuri tali bandar
tepian tempat mandi
serta,
memelihara terukaan
sawah gadang satampang banieh
makanan anak tiga luhak
untuk hidup, dan
kehidupan anak kemenakan
Namun kini,
Tulang layang – layang darek itu
tergantung di tiang bubungan
Umurnya kini,
sudah mencapai sembilan puluh sembilan
ditambah satu tahun, bahkan
ada yang mencapai seratus
ditambah dua puluh tahun
masih ada yang mencapai seratus empat
ditambah empat puluh tahun
yang jelas,
seratus empat belas lengkap.
Sementara, benang
tali layang – layang darek itu
walau ada yang kusut
masih melingkar melingkar di tuturan
Ninik berharap, barangkali
anak kemenakan mau jadi “Warih”
Sang pelanjut negeri ini
tulang layang – layang darek itu
kebanggaan ninik sejak Merapi
Memintal benang – benang kusut
menjalinnya jadi tali
menenun alam jadi ragi
Sayang, ada yang midik
barangkali,
untuk menelusuri jejak kuburan
Dari Kumpulan Puisi Emral Djamal : "Layang-Layang Darek", 1995
bagai tuangan tembaga menetes halus
rinainya pariangan dari sebuah kancah
terawangan lidah
Inilah mainan Aulia negeri ini !
Memanggil anak kemenakan
pulang dari rantau
berkhabar pada nenek moyang
menyantuni kampung, dan
sanak famili yang berlayar
di rantau lautan tak bertepi
Berkundano di rimba larangan
mengawasi gembalaan yang sesat
menelusuri tali bandar
tepian tempat mandi
serta,
memelihara terukaan
sawah gadang satampang banieh
makanan anak tiga luhak
untuk hidup, dan
kehidupan anak kemenakan
Namun kini,
Tulang layang – layang darek itu
tergantung di tiang bubungan
Umurnya kini,
sudah mencapai sembilan puluh sembilan
ditambah satu tahun, bahkan
ada yang mencapai seratus
ditambah dua puluh tahun
masih ada yang mencapai seratus empat
ditambah empat puluh tahun
yang jelas,
seratus empat belas lengkap.
Sementara, benang
tali layang – layang darek itu
walau ada yang kusut
masih melingkar melingkar di tuturan
Ninik berharap, barangkali
anak kemenakan mau jadi “Warih”
Sang pelanjut negeri ini
tulang layang – layang darek itu
kebanggaan ninik sejak Merapi
Memintal benang – benang kusut
menjalinnya jadi tali
menenun alam jadi ragi
Sayang, ada yang midik
barangkali,
untuk menelusuri jejak kuburan
Dari Kumpulan Puisi Emral Djamal : "Layang-Layang Darek", 1995
ALAM RAYA KATA "LAYANG-LAYANG DAREK"
SAJAK-SAJAK EMRAL DJAMAL
Oleh A.D.Erizal S.S
“Kata kuci dalam sajak ini adalah : ”Inilah mainan Aulia negeri ini !” (bait 3).Artinya, Layang – layang Darek itu adalah mainan Aulia negeri ini. Aulia adalah orang yang dekat dengan Allah disebut juga wali atau pemimpin. Mainan Aulia di negeri ini (Minangkabau) adalah Layang – layang Darek. Kepak dada layang – layang itu besar dan talinya juga besar. Tidak semua orang dapat memainkan layang – layang itu. Jikalau orang tidak mempunyai tenaga dalam (kekuatan batin) tidak akan sanggup memainkannya.Layang – layang seperti itulah yang dimainkan para Aulia untuk memperlihatkan kepandaian dan taraf kekuatan batin yang dimilikinya.
Dalam sajak ini Layang – layang Darek menjadi simbolisasi yang menunjukkan bahwa para pemimpin di Minangkabau dulunya dekat dengan Allah. Alam peng-rasa-annya bermain di alam malakut. Dari kancah terawangan lidah (majelis zikir) itulah mereka mendapat ilham membangun tataran sendi-sendi adat yang mengatur tata hubungan kemasyarakatan.
Oleh karena itu Emral Djamal berkeyakinan bahwa adat Minangkabau disusun atas dasar – dasar sufistik.
“Dengungan yang bergetar diantara kedua kepak dada layang – layang menyatakan diri di Alamini seperti sengatan yang menggigit pedih (naniang, sejenis penyengat tabuan). Getaran itu datang dari darek menggema sampai ke rantau lalu menukik ke dalam laut. Layang – layang darek itu bermain di langit. Menembus awan – awan kemerahan (bagaikan tuangan tembaga) menetes halus rinainya Pariangan dari sebuah kancah terawangan lidah.
Sebuah metafora pada awalnya disusunnya sistim adat di Minangkabau terlihat pada kutipan bait pertama dan kedua di atas Penyair mengisyaratkan bahwa sistim adat Minangkabau dirumuskan dalam suatu majelis, dalam suatu musyawarah (kancah terawangan lidah) di Pariangan pusat kerajaan Minangkabau. Perintah untuk melaksanakan sistim adat itu mendengung seperti dengung Layang – layang Darek menyatakan diri di Alam, alam Minangkabau dan getarnya sampai ke daerah rantau. Bentuk sistim adat itu diisyaratkan pada bait empat dan lima. Memanggil anak ke menakan pulang dari rantau, berkhabar pada ninik moyang, menyantuni kampung dan sanak famili yang berlayar di rantau tak bertepi. Berkundano (mengawasi,menjaga) di rimba larangan, mengawasi gembalaan yang sesat, menelusuri tali Bandar tepian tempat mandi serta memelihara terukaan sawah gadang setampang banieh (benih) makan anak tiga luhak untuk hidup dan kehidupan anak kemenakan. Itulah seperangkat sistem adat yang berlaku di Minangkabau.
Namun kini sistim adat itu tidak lagi berjalan menurut semestinya. Ninik berharap, barangkali anak kemenakan mau jadi “Warih” sang pelanjut negeri ini menolong tulang-tulang yang mati yaitu tonggak – tonggak sendi adat agar dapat eksis kembali. Sayang ada yang “midik” (jeli n peduli, tapi dengki), barangkali untuk menelusuri jejak kuburan.
Kritik Emral Djamal terhadap kenyataan kemasyarakatan yang terjadi di Minangkabau seperti yang diungkapkan secara alegoris dalam sajak “Layang-layang Darek” diatas dipertegasnya kembali dalam sajak “Kerbau Semesta”.Dipertegas lagi maksudnya,sajak “Layang-layang Darek” ditulis 1991, sedangkan “Kerbau Semesta ditulis tahun 1995.Artinya empat tahun kemudian ED mempertegas kembali sikap kritisnya terhadap realitas sosial budaya daerahnya.
dari Dok. Makalah Sastra, Pernah Terbit di Tabloid Tabuh IAIN Imam Bonjol Pdg.
SAJAK-SAJAK EMRAL DJAMAL
Oleh A.D.Erizal S.S
“Kata kuci dalam sajak ini adalah : ”Inilah mainan Aulia negeri ini !” (bait 3).Artinya, Layang – layang Darek itu adalah mainan Aulia negeri ini. Aulia adalah orang yang dekat dengan Allah disebut juga wali atau pemimpin. Mainan Aulia di negeri ini (Minangkabau) adalah Layang – layang Darek. Kepak dada layang – layang itu besar dan talinya juga besar. Tidak semua orang dapat memainkan layang – layang itu. Jikalau orang tidak mempunyai tenaga dalam (kekuatan batin) tidak akan sanggup memainkannya.Layang – layang seperti itulah yang dimainkan para Aulia untuk memperlihatkan kepandaian dan taraf kekuatan batin yang dimilikinya.
Dalam sajak ini Layang – layang Darek menjadi simbolisasi yang menunjukkan bahwa para pemimpin di Minangkabau dulunya dekat dengan Allah. Alam peng-rasa-annya bermain di alam malakut. Dari kancah terawangan lidah (majelis zikir) itulah mereka mendapat ilham membangun tataran sendi-sendi adat yang mengatur tata hubungan kemasyarakatan.
Oleh karena itu Emral Djamal berkeyakinan bahwa adat Minangkabau disusun atas dasar – dasar sufistik.
“Dengungan yang bergetar diantara kedua kepak dada layang – layang menyatakan diri di Alamini seperti sengatan yang menggigit pedih (naniang, sejenis penyengat tabuan). Getaran itu datang dari darek menggema sampai ke rantau lalu menukik ke dalam laut. Layang – layang darek itu bermain di langit. Menembus awan – awan kemerahan (bagaikan tuangan tembaga) menetes halus rinainya Pariangan dari sebuah kancah terawangan lidah.
Sebuah metafora pada awalnya disusunnya sistim adat di Minangkabau terlihat pada kutipan bait pertama dan kedua di atas Penyair mengisyaratkan bahwa sistim adat Minangkabau dirumuskan dalam suatu majelis, dalam suatu musyawarah (kancah terawangan lidah) di Pariangan pusat kerajaan Minangkabau. Perintah untuk melaksanakan sistim adat itu mendengung seperti dengung Layang – layang Darek menyatakan diri di Alam, alam Minangkabau dan getarnya sampai ke daerah rantau. Bentuk sistim adat itu diisyaratkan pada bait empat dan lima. Memanggil anak ke menakan pulang dari rantau, berkhabar pada ninik moyang, menyantuni kampung dan sanak famili yang berlayar di rantau tak bertepi. Berkundano (mengawasi,menjaga) di rimba larangan, mengawasi gembalaan yang sesat, menelusuri tali Bandar tepian tempat mandi serta memelihara terukaan sawah gadang setampang banieh (benih) makan anak tiga luhak untuk hidup dan kehidupan anak kemenakan. Itulah seperangkat sistem adat yang berlaku di Minangkabau.
Namun kini sistim adat itu tidak lagi berjalan menurut semestinya. Ninik berharap, barangkali anak kemenakan mau jadi “Warih” sang pelanjut negeri ini menolong tulang-tulang yang mati yaitu tonggak – tonggak sendi adat agar dapat eksis kembali. Sayang ada yang “midik” (jeli n peduli, tapi dengki), barangkali untuk menelusuri jejak kuburan.
Kritik Emral Djamal terhadap kenyataan kemasyarakatan yang terjadi di Minangkabau seperti yang diungkapkan secara alegoris dalam sajak “Layang-layang Darek” diatas dipertegasnya kembali dalam sajak “Kerbau Semesta”.Dipertegas lagi maksudnya,sajak “Layang-layang Darek” ditulis 1991, sedangkan “Kerbau Semesta ditulis tahun 1995.Artinya empat tahun kemudian ED mempertegas kembali sikap kritisnya terhadap realitas sosial budaya daerahnya.
dari Dok. Makalah Sastra, Pernah Terbit di Tabloid Tabuh IAIN Imam Bonjol Pdg.
Langganan:
Postingan (Atom)



















